ASTAGFIRULLAH Nekat Menikah di Bulan Keramat, Rasulullah Juga Pernah dan ini yang Terjadi

dipandang sebagai salah satu ibadah dalam agama Islam menikah memang dianjurkan bagi siapa saja yang sudah merasa mampu Tapi sayangnya ada mitos yang menyebutkan jika pernikahan dilarang terjadi saat bulan Muharram

Bulan Muharram atau yang dalam bahasa Jawa disebut bulan Suro dianggap sejumlah Masyarakat khususnya Jawa sebagai bulan yang keramat bahkan ada pantangan untuk menyelenggarakan hajatan pernikahan selama bulan Suro tak heran menjelang akhir bulan Dzulhijjah masyarakat Jawa buru-buru menggelar hajatan pernikahan sebelum memasuki bulan Suro

Jika dalam kalender Jawa berarti satu Suro.

Bagi masyarakat Jawa yang njawani bulan Suro dipercaya pantang melakukan hajatan. Mulai dari lamaran pernikahan sunatan hingga pindah rumah. Apabila seseorang yang nekat melanggar larangan ini, dipercaya akan mendapatkan musibah atau bala.

Seperti banyaknya tradisi dalam pernikahan adat Jawa, larangan menikah di bulan Suro juga tidak tahu berasal darimana. Tapi karena sudah dipercaya secara turun-temurun, sebagian besar masyarakat takut untuk melanggar.

Menurut cerita Mbah buyut saya ada beberapa bulan yang tidak baik melangsungkan hajatan. Mulai dari bulan Suro, Sapar dan Mulud. Ketiga bulan tersebut dalam hitungan jawa posisi manjing tahun berada di timur. Atau yang biasa disebut naga tahun ada di timur

Ini termasuk dalam pati dina yakni hari buruk dalam melaksanakan hajatan dan upacara sejenisnya.

Simbah memberi contoh kejadian yang menimpa Lek Sri, tetangga ujung desa kami. Ia pernah menikahkan anaknya pada bulan Suro. Tepat tiga hari setelah pernikahan berlangsung, anak lek Sri mengalami kecelakaan.

Biaya rumah sakit yang ditanggung lumayan besar hingga harus menjual sapi miliknya. Lahwong sudah diperingati semua warga Sri kae malah ndak percaya, ya memang ndak ada dalilnya tapi kejadian toh Ujar simbah.

Bagi saya, sebab musibah atau ujian yang menimpa seseorang murni datang dari Tuhan. Tapi ya bagaimana, saya hidup di lingkungan yang masih kental dengan hukum adat. Niat baik lek Sri mempercepat pernikahan anaknya malah jadi gunjingan warga karena melanggar adat dan terkena tulah. Ngeri bener.

Ada lagi alasan lain yang membuat bulan Suro menjadi keramat dan tidak boleh mengadakan pesta. Bulan Suro dipercaya sebagai tonggak atau bulan permulaan untuk memulai sesuatu.

Sehingga ada baiknya digunakan untuk menyucikan jasmani dan rohani seseorang. Misalnya dengan merenungkan kesalahan dan memperbaikinya guna meningkatkan kualitas diri. Bahkan saking terkenal dengan bulan keramat dan suci setiap satu suro sering terdapat acara penyucian benda-benda pusaka.

Selain itu, kisah-kisah filosofis yang terjadi di bulan Suro pada masa lampau membuat masyarakat percaya jika mengadakan acara adalah bentuk perbuatan kurang sopan pada leluhur.

Lebih baik digunakan untuk mengingat kembali kisahnya dan sarana menambah derajat keilmuan. Kisah-kisah tersebut antara lain, Bulan Muharram adalah bulan kedatangan Aji Saka di tanah Jawa dan membebaskan Jawa dari raksasa yang menjajah manusia dari generasi pendahulu Aji Saka. Hal tersebut diprakarsai oleh Sultan Agung yakni Sultan ketiga Kerajaan Mataram Islam.

Jika dihubungkan dengan perspektif Islam sendiri bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Rasulullah Muhammad SAW juga menyatakan jika bulan Muharram dinyatakan sebagai bulan para nabi.

Blio memuliakan bulan tersebut, terutama pada tanggal 10 atau satu hari sebelum atau sesudahnya. Di mana Rasulullah mengajurkan untuk berpuasa dan memperbanyak sedekah.

Nah loh, ironi bukan. Meski tidak ada larangan dalam Islam untuk melangsungkan pernikahan, tradisi tetap perlu dijaga agar ingat asal muasalnya.

Larangan nikah di bulan Suro itu istilahnya buat menghindari sial, cobaan dan perkara-perkara yang bisa menganggu pernikahan. Memang semua berasal dari Gusti Pangeran, tapi manusia kan harus hati-hati.

Lagipula masih ada bulan lain yang baik kenapa harus menikah waktu Suro Jelas Simbah panjang lebar membuat saya cuma manggut-manggut.

Memang benar kata Simbah. Berbeda dengan Suro, pada saat Dzulhijjah atau disebut Besar dalam kalender Jawa menjadi bulan baik untuk menyelenggarakan hajatan.

Tidak heran jika akhir-akhir ini, undangan pernikahan membanjiri rumah saya. Belum lagi ditambah dengan unggahan foto pernikahan, setiap hari selalu ada saja teman atau kerabat yang menikah.

Penentuan hari baik pernikahan di adat Jawa ini juga masih berpatokan pada hitungan yang ada di Primbon. Di dalam kitab Primbon terdapat beberapa bulan baik untuk melangsungkan hajatan diantaranya Besar Ruwah Rejeb dan Jumadil akhir. Bulan-bulan diatas sangat dianjurkan untuk punya gawe.

Jika melaksanakan acara pada bulan Besar artinya akan kaya dan mendapat kebahagiaan. Kemudian, jika pada bulan Ruwah bermaksudkan agar selamat dan selalu hidup damai.

Tidak jauh berbeda dengan Ruwah menggelar acara pada bulan Rejeb juga memiliki tujuan untuk keselamatan dan memperbanyak keturunan. Selanjutnya yang terakhir bulan Jumadil akhir artinya kaya akan harta benda.

Percaya atau tidak tergantung pada nilai yang masih dianut oleh masyarakat setempat. Tapi setidaknya, bulan Suro menjadi waktu yang paling baik untuk rehat

About admin

Check Also

Lama Tak Muncul Di TV!! Begini Kehidupan 8 Mantan Member Cherrybelle yang Kini Sudah Menikah

Di awal tahun 2011, kehadiran girl band Cherry Belle memang sempat menarik perhatian publik tanah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!