PSSI HANYA INGIN UNTUNG? Bukti Kebobrokan & Skandal Pengurus PSSI yang Hebohkan Sepak Bola Indonesia

Kasus hukum yang menimpa Joko Driyono makin mempertegas sepak bola Indonesia biangnya persoalan. Dunia bal-balan Tanah Air tak pernah lepas dari kontroversial, apalagi bicara soal PSSI.

Joko Driyono yang berstatus sebagai Plt Ketum PSSI, ditetapkan sebagai tersangka oleh Satgas Anti Mafia Bola. Jokdri jadi tersangka kasus perusakan barang bukti pengaturan skor.

Perusakan barang bukti, ujar Ketua Tim Media Satgas Anti Mafia Bola Kombes Argo Yuwono saat dimintai konfirmasi, Jumat (15/2/2019).

Tak disebutkan dengan jelas perusakan barang bukti apa yang disangkakan telah dilakukan Joko Driyono.

Pada awal Februari, Satgas Anti Mafia Bola menemukan dokumen yang sengaja dirusak saat penggeledahan di bekas kantor PT Liga Indonesia–yang kemudian digunakan untuk kantor marketing Persija Jakarta. Dokumen tersebut diduga milik Persija.

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Syahar Diantono, ketika itu mengatakan dokumen tersebut merupakan dokumen keuangan. Sejauh ini, tiga orang saksi membenarkan dokumen itu milik Persija.

Terdapat beberapa skandal yang memuat bukti kebobrokan pengurus sepak bola Nasional. Kebobrokan tersebut menodai sportivitas sepak bola Indonesia, dari korupsi internal PSSI hingga Match-fixing.

Joko Driyono
Pada 2019, kasus yang mencoreng dunia sepak bola Indonesia adalah kasus Joko Driyono. Jokdri, sapaan akrbanya, yang menjabat sebagai ketua PSSI itu berupaya perusakan barang bukti pengaturan skor yang ditangani Satgas Antimafia Bola bentukan Mabes Polri.

Dari kasus tersebut, Jokdri dihukum dengan 1 tahun 6 bulan kurungan penjara oleh Pengadilan Negerti Jakarta Selatan pada 23 Juli 2019.

Surat Kaleng Piala AFF 2010
Salah satu kejadian yang tidak bisa dilupakan oleh pencinta sepak bola tanah air adalah Piala AFF 2010. Kala itu, Indonesia yang mendominasi turnamen sejak awal justru kalah agregat 2-4 dengan Malasyia di partai puncak.

Kontroversi mencuat seiring munculnya surat kaleng ke media, dua oknum petinggi PSSI diduga menjual pertandingan leg pertama final Piala AFF 2010. Surat elektronik mencuat ke permukaan setelah aduan Eli Cohen yang ditujukan kepada Presiden SBY kala itu.

Email dengan subjek “Mohon Penyelidikan Skandal Suap Saat Piala AFF di Malaysia” itu juga ditembuskan kepada Menpora, Ketua KPK, Ketua DPR, dan Ketua KONI. Eli Cohen (nama seorang agen Mossad, dinas rahasia Israel), mengaku sebagai pegawai pajak di lingkungan kementerian Keuangan RI.

Dari hasil kekalahn tersebut, semakin diperkuat dari adanya kabar yang mengatakan bahwa dua petinggi PSSI masuk ke ruang ganti pemain, ada juga sinar laser yang merupakan bagian kecil dari skandal.

Dualisme Kompetisi
Sepeninggal kepengrusuan Nurdin Halid, ketua PSSI saat itu Djohar Arifin melakukan terobosan baru dengan merombak sistem kompetisi. Indonesia Super League (ISL) diubah menjadi Indonesia Primer League (IPL).

Dari situ, klub-klub anggota PSSI terbelah menyikapi kompetisi baru. Sebagaian besar memilih untuk tetap berkompitisi di ISL.

Secara tiba-tiba, mucul klub dengan nama yang sama tampil di dua kompetisi yang berbeda, seperti Persija Jakarta, Arema Indonesia, Persebaya Surabaya terpecah menjadi dua versi ISL dan IPL.

Kepengurusan PSSI mulai tidak solid. Sejumlah anggota Komite Eksekutif yang dimotori La Nyalla Mattalitti, memberi dukungan ke klub ISL. Mereka bahkan membentuk organisasi tandingan bernama Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI)

Mafia Wasit di Liga Indonesia 1998
Rakernas PSSI yang dilaksanakan Februari 1998 dihebohkan dengan pernyataan yang dilontarkan Manajer Persikab Kab. Bandung, Endang Sobarna, tentang adanya permainan kotor di pentas kompetisi Liga Indonesia yang melibatkan wasit.

Ketua Umum PSSI saat itu, Azwar Anas langsung membentuk tim pencari fakta untuk mengusut tuntas kasus mafia wasit.

PSSI lantas menghukum Wakil Ketua Komisi Wasit PSSI, Jafar Umar,dengan hukuman seumur hidup tak boleh terlibat di sepak bola nasional karena terbukti terlibat dalam pengaturan hasil pertandingan dengan melibatkan korps pengadil di lapangan.

Sebanyak 40 wasit Tanah Air juga masuk gerbong terdakwa dalam kasus match fixing. Beberapa di antaranya macam Khairul Agil, R. Pracoyo, Halik Jiro, terhitung sebagai figur top.

Kinerja wasit di pentas kompetisi pernah menjadi sorotan pada 1998.
Sosok almarhum Jafar Umar, yang berstatus sebagai wasit FIFA sejak lama diisukan jadi Godfather mafia wasit. Ia dipergunjingkan menerima upeti dari para pengadil yang bertugas di pentas kompetisi profesional dan amatir.

Adang Ruchiatna, yang didapuk sebagai Tim Penanggulangan Masalah Perwasitan, sempat melaporkan kasus Jafar dkk. ke Polda Metro Jaya. Hanya saja pengusutan kasus di jalur hukup terhenti begitu Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan sanksi.

Beberapa tahun lalu, Jafar sempat buka suara soal kasusnya. Ia menyebut dirinya hanya jadi kambing hitam karena ada sejumlah petinggi PSSI yang memegang kendali mengatur pertandingan dengan melibatkan komite wasit yang dipimpinnya.

Hanya hingga berpulang ke Sang Khalik pada 12 Mei 2012, pria asal Pare-pare itu tidak pernah menyebut nama oknum pengurus PSSI yang ia maksud.

About admin

Check Also

15 Tahun Lama Nggak Muncul di TV..! Begini Nasib dan Kabar Terbaru para Pemeran Film Ronaldowati

Sinetron Ronaldowati sempat menjadi salah satu tontonan favorit anak-anak sampai remaja pada 2008 silam. Sinetron …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!